Selasa, 24 Mei 2016
Senin, 16 November 2015
Soichiro Honda, Montir tangguh yang tahan pada kegagalan
Kisah Sukses Soichiro Honda, Montir tangguh yang menjadi bos industri mobil Jepang Pernakah Anda tahu, sang pendiri "kerajaan" Honda - Soichiro Honda – sebelum sukses diraihnya ia banyak mengalami kegagalan? Ia juga tidak menyandang gelar insinyur, lebih-lebih Profesor seperti halnya B.J. Habibie, mantan Presiden RI. Ia bukan siswa yang memiliki otak cemerlang. Di kelas, duduknya tidak pernah di depan, selalu menjauh dari pandangan guru. "Nilaiku jelek di sekolah. Tapi saya tidak bersedih, karena dunia saya disekitar mesin, motor dan sepeda," tutur tokoh ini, yang meninggal pada usia 84 tahun, setelah dirawat di RS Juntendo, Tokyo, akibat mengindap lever. Soichiro Honda lahir tanggal 17 November 1906 di Iwatagun (kini Tenrryu City) yang terpencil di Shizuoka prefecture. Daerah Chubu di antara Tokyo, Kyoto, dan Nara di Pulau Honshu yang awalnya penuh tanaman teh yang rapi, yang disela-selanya ditanami arbei yang lezat. Namun kini daerah kelahiran Honda sudah ditelan Hamamatsu yaitu kota terbesar di provinsi itu. Ayahnya bernama Gihei Honda seorang tukang besi yang beralih menjadi pengusaha bengkel sepeda, sedangkan ibunya bernama Mika, Soichiro anak sulung dari sembilan bersaudara, namun hanya empat yang berhasil mencapai umur dewasa. Yang lain meninggal semasa kanak-kanak akibat kekurangan obat dan juga akibat lingkungan yang kumuh. Walaupun Gihei Honda miskin, namun ia suka pembaharuan. Ketika muncul pipa sigaret modal Barat, ia tidak ragu-ragu mengganti pipa cigaret tradisionalnya yang bengkok, tidak peduli para tetangganya menganggapnya aneh. Rupanya sifat itu dan juga keterampilannya menangani mesin menurun pada anak sulungnya. Sebelum masuk sekolah pun Soichiro sudah senang, membantu ayahnya di bengkel besi. Ia juga sangat terpesona melihat dan mendengar dengum mesin penggiling padi yang terletak beberapa kilometer dari desanya. Di sekolah prestasinya rendah. Honda mengaku ulangan-ulangannya buruk. Ia tidak suka membaca, sedangkan mengarang dirasakannya sangat sulit. Tidak jarang ia bolos. “Sampai sekarang pun saya lebih efisien belajar dari TV daripada dari membaca. Kalau saya membaca, tidak ada yang menempel di otak,” katanya. Ketika sudah kelas lima dan enam, bakat Soichiro tampak menonjol di bidang sains. Walaupun saat itu baru belasan tahun, namun dalam kelas-kelas sains di Jepang sudah dimunculkan benda-benda seperti baterai, timbangan, tabung reaksi dan mesin. Dengan mudah Soichiro menangkap keterangan guru dan dengan mudah ia menjawab pertanyaan guru. Beberapa waktu sebelum itu, untuk pertama kalinya Soichiro melihat mobil. “Ketika itu saya lupa segalanya. Saya kejar mobil itu dan berhasil bergayut sebentar di belakangnya. Ketika mobil itu berhenti, pelumas menetes ke tanah. Saya cium tanah yang dibasahinya. Barangkali kelakuan saya persis seperti anjing. Lalu pelumas itu saya usapkan ke tangan dan lengan. Mungkin pada saat itulah di dalam hati saya timbul keinginan untuk kelak membuat mobil sendiri. Sejak saat itu kadang-kadang ada mobil datang ke kampung kami. Setiap kali mendengar deru mobil, saya berlari ke jalan, tidak peduli pada saat itu saya sedang menggendong adik.” Soichiro hanya mengalami duduk di bangku sekolah selama sepuluh tahun. Sesudah lulus SD, anak nakal itu dikirim ke sekolah menengah pertama di Futumata yang tidak jauh dari kediamannya. Lulus dari sekolah menengah itu ia pulang ke rumah ayahnya. Gihei Honda sudah beralih dari pandai besi menjadi pengusaha bengkel sepeda. Gihei Honda memiliki majalah The World of Wheels yang dibaca Soichiro dengan penuh minat Kecintaannya kepada mesin, mungkin 'warisan' dari ayahnya yang membuka bengkel reparasi pertanian, di dusun Kamyo, distrik Shizuko, Jepang Tengah, tempat kelahiran Soichiro Honda. Di bengkel, ayahnya memberi cathut (kakak tua) untuk mencabut paku. Ia juga sering bermain di tempat penggilingan padi melihat mesin diesel yang menjadi motor penggeraknya. Di usia 8 tahun, ia mengayuh sepeda sejauh 10 mil, hanya ingin menyaksikan pesawat terbang. Ternyata, minatnya pada mesin, tidak sia-sia. Ketika usianya 12 tahun, Honda berhasil menciptakan sebuah sepeda pancal dengan model rem kaki. Tapi, benaknya tidak bermimpi menjadi usahawan otomotif. Ia sadar berasal dari keluarga miskin. Apalagi fisiknya lemah, tidak tampan, sehingga membuatnya rendah diri. Di usia 15 tahun, Honda hijrah ke Jepang, bekerja Hart Shokai Company. Bosnya, Saka Kibara, sangat senang melihat cara kerjanya. Honda teliti dan cekatan dalam soal mesin. Setiap suara yang mencurigakan, setiap oli yang bocor, tidak luput dari perhatiannya. Enam tahun bekerja disitu, menambah wawasannya tentang permesinan. Akhirnya, pada usia 21 tahun, bosnya mengusulkan membuka suatu kantor cabang di Hamamatsu. Tawaran ini tidak ditampiknya. Di Hamamatsu prestasi kerjanya tetap membaik. Ia selalu menerima reparasi yang ditolak oleh bengkel lain. Kerjanya pun cepat memperbaiki mobil pelanggan sehingga berjalan kembali. Karena itu, jam kerjanya larut malam, dan terkadang sampai subuh. Otak jeniusnya tetap kreatif. Pada zaman itu, jari-jari mobil terbuat dari kayu, hingga tidak baik meredam goncangan. Ia punya gagasan untuk menggantikan ruji-ruji itu dengan logam. Hasilnya luarbiasa. Ruji-ruji logamnya laku keras, dan diekspor ke seluruh dunia. Di usia 30, Honda menandatangani patennya yang pertama. Setelah menciptakan ruji, Honda ingin melepaskan diri dari bosnya, membuat usaha bengkel sendiri. Ia mulai berpikir, spesialis apa yang dipilih? Otaknya tertuju kepada pembuatan Ring Pinston, yang dihasilkan oleh bengkelnya sendiri pada tahun 1938. Sayang, karyanya itu ditolak oleh Toyota, karena dianggap tidak memenuhi standar. Ring buatannya tidak lentur, dan tidak laku dijual. Ia ingat reaksi teman-temannya terhadap kegagalan itu. Mereka menyesalkan dirinya keluar dari bengkel. Karena kegagalan itu, Honda jatuh sakit cukup serius. Dua bulan kemudian, kesehatannya pulih kembali. Ia kembali memimpin bengkelnya. Tapi, soal Ring Pinston itu, belum juga ada solusinya. Demi mencari jawaban, ia kuliah lagi untuk menambah pengetahuannya tentang mesin. Siang hari, setelah pulang kuliah - pagi hari, ia langsung ke bengkel, mempraktekan pengetahuan yang baru diperoleh. Setelah dua tahun menjadi mahasiswa, ia akhirnya dikeluarkan karena jarang mengikuti kuliah. "Saya merasa sekarat, karena ketika lapar tidak diberi makan, melainkan dijejali penjelasan bertele-tele tentang hukum makanan dan pengaruhnya," ujar Honda, yang gandrung balap mobil. Kepada Rektornya, ia jelaskan maksudnya kuliah bukan mencari ijasah. Melainkan pengetahuan. Penjelasan ini justru dianggap penghinaan. Berkat kerja kerasnya, desain Ring Pinston-nya diterima. Pihak Toyota memberikan kontrak, sehingga Honda berniat mendirikan pabrik. Eh malangnya, niatan itu kandas. Jepang, karena siap perang, tidak memberikan dana. Ia pun tidak kehabisan akal mengumpulkan modal dari sekelompok orang untuk mendirikan pabrik. Lagi-lagi musibah datang. Setelah perang meletus, pabriknya terbakar dua kali. Namun, Honda tidak patah semangat. Ia bergegas mengumpulkan karyawannya. Mereka diperintahkan mengambil sisa kaleng bensol yang dibuang oleh kapal Amerika Serikat, digunakan sebagai bahan mendirikan pabrik. Tanpa diduga, gempa bumi meletus menghancurkan pabriknya, sehingga diputuskan menjual pabrik Ring Pinstonnya ke Toyota. Setelah itu, Honda mencoba beberapa usaha lain. Sayang semuanya gagal. Akhirnya, tahun 1947, setelah perang Jepang kekurangan bensin. Di sini kondisi ekonomi Jepang porak-poranda. Sampai-sampai Honda tidak dapat menjual mobilnya untuk membeli makanan bagi keluarganya. Dalam keadaan terdesak, ia memasang motor kecil pada sepeda. Siapa sangka, "sepeda motor" – cikal bakal lahirnya mobil Honda - itu diminati oleh para tetangga. Mereka berbondong-bondong memesan, sehingga Honda kehabisan stok. Disinilah, Honda kembali mendirikan pabrik motor. Sejak itu, kesuksesan tak pernah lepas dari tangannya. Motor Honda berikut mobinya, menjadi "raja" jalanan dunia, termasuk Indonesia. Bagi Honda, janganlah melihat keberhasilan dalam menggeluti industri otomotif. Tapi lihatlah kegagalan-kegagalan yang dialaminya. "Orang melihat kesuksesan saya hanya satu persen. Tapi, mereka tidak melihat 99% kegagalan saya", tuturnya. Ia memberikan petuah ketika Anda mengalami kegagalan, yaitu mulailah bermimpi, mimpikanlah mimpi baru. Kisah Honda ini, adalah contoh bahwa Suskes itu bisa diraih seseorang dengan modal seadanya, tidak pintar di sekolah, ataupun berasal dari keluarga miskin. 5 Resep keberhasilan Honda : * Selalu berambisi dan berjiwa muda. * Hargailah teori yang sehat, temukan gagasan baru, khususkan waktu memperbaiki produksi. * Senangi pekerjaan Anda dan usahakan buat kondisi kerja senyaman mungkin. * Carilah irama kerja yang lancar dan harmonis. * Selalu ingat pentingnya penelitian dan kerja sama. Trial and error Untuk meraih kesuksesan, Anda perlu melakukan trial and error. Hal ini merupakan salah satu tolok ukur untuk menggapai kesuksesan. Tinggal sejauh mana kita mau dan berani mencoba kembali kegagalan itu. Sebelum mencoba lagi, pikirkan masak-masak langkah yang akan ditempuh. Kalau pun terjadi kesalahan kembali, jangan ragu-ragu melakukan perbaikan dan terus mencoba sampai Anda berhasil mengatasinya. Kunci utama trial and error adalah kerja keras dan tetap semangat. "Orang melihat kesuksesan saya hanya satu persen. Tapi, mereka tidak melihat 99% kegagalan saya", Soichiro Honda Nah dengan demikian, Anda telah berdamai dengan kegagalan. Sehingga kegagalan bukan lagi momok yang menakutkan. Melainkan sesuatu yang harus dihadapi dan dilawan agar kegagalan itu tidak menggerogoti hidup Anda. Semoga Sukses…..!
Sumber: http://inspirasisuksesmulia.blogspot.co.id/2013/02/kisah-sukses-soichiro-honda-montir.html
Kamis, 17 April 2014
Cerita Pendek 3
Loli Bonekanya Joan
ditulis oleh : Marieta Rianthi
Boneka yang cantik sekali.Bergaun panjang kuno,berwarna merah muda,Dengan renda-renda dibagian leher dan tangannya.Rambutnya pendek berwarna keemasan dengan pita berwarna merah muda pula.Wajahnya manis dicat dengan terampil sekali.Dan menambah kesan abad pertengahan, boneka itu juga mengenakan sepatu model pada zaman tersebut juga berwarna merah muda.Tubuhnya terdiri dari kapas dan kain perca.Meskipun warnanya memudar dan telah usang dimakan zaman,boneka itu tetap terlihat anggun.Begitu klasik dan terkesan mahal,jenis boneka yang biasa dimiliki oleh anak-anak orang kaya dan dipajang di etalase toko-toko mewah pada zamannya. Kini dia muncul begitu saja. Duduk dengan manis di sofa ruang tamu rumah mereka.
Darla mengernyitkan dahinya ketika melihat boneka itu. Ia baru saja pulang kuliah. Gadis berkacamata itu memandangnya aneh,menelitinya sedemikian rupa. Tatapan boneka itu terlihat lebih tajam dan licik. Namun Darla tidak menyadarinya,diacuhkannya boneka itu, lalu bergegas menuju kamarnya.
Darla mengernyitkan dahinya ketika melihat boneka itu. Ia baru saja pulang kuliah. Gadis berkacamata itu memandangnya aneh,menelitinya sedemikian rupa. Tatapan boneka itu terlihat lebih tajam dan licik. Namun Darla tidak menyadarinya,diacuhkannya boneka itu, lalu bergegas menuju kamarnya.
"Darla!. Kenapa lo menaruh boneka di dapur,sih!?",teriak Ronin, kakak tertua Darla, sambil membuka pintu kamar Darla yang tidak terkunci. Darla hampir saja terlelap,jika saja kakaknya itu tidak datang mengganggunya. "bukan gue, kak!Lagian gak penting banget sih. Udah sana jangan ganggu gue",cetusnya. "yeah, mungkin si Joan,kali",gumamnya lalu meninggalkan Darla sendirian. Darla dan Ronin hanya terpaut dua tahun saja,jadi tidak heran mereka sudah seperti teman sebaya. Mereka mempunyai adik bungsu bernama Joan, gadis cilik berusia 7 tahun. Dan Joan sangat menyukai boneka. Joan sedang tidur siang sekarang ditemani mamanya. Papa belum pulang. Ronin kembali dikejutkan oleh boneka itu. Kini boneka itu duduk di sofa ruang tamu lagi. Baru beberapa menit saja dia meninggalkannya di dapur, dalam sekejap boneka itu telah kembali ke tempatnya semula!. Ronin memandanginya dengan tatapan aneh. "Sebenarnya dari mana sih boneka ini?",bisik Ronin, sambil mengingat-ingat. "kayaknya Joan gak punya boneka ini deh, tapi koq dia tiba-tiba muncul, sih?", Ronin meneliti boneka itu, digerak-gerakan tangannya, lalu ditaruhnya kembali pada posisi semula. Raut wajah boneka itu memang tersenyum, namun sekilas, Ronin melihat senyumnya melebar. Ronin mengernyitkan dahinya, lalu berlalu menuju kamarnya.
"Pa, boneka itu papa yang beli, ya?", cetus Ronin ketika mereka sekeluarga sedang makan malam bersama. "boneka apa ya?", tanya papa. "itu lho pa yang di ruang tamu", sahut Darla. "iya pa, Ronin sepertinya baru lihat". papa jadi bingung. Darla dan Ronin saling melemparkan pandangan. "boneka itu ya!", seru Joan. "aku nemuin dia di halaman sebuah rumah, di seberang sekolahku. Aku pikir yang punya boneka ini sudah membuangnya. Mereka udah gak sayang lagi sama dia. Lalu aku Ambil deh,eh tiba-tiba seorang kakak perempuan keluar dari dalam rumah dan mencegahku mengambilnya", Joan berhenti sebentar,meminum segelas air putih. Untuk sementara tidak ada komentar, mereka menunggu kelanjutan ceritanya. "kakak itu bilang, 'jangan dibawa bonekanya,dik, jangan! Tolong kembalikan lagi ya,kakak akan menyimpannya' ", lanjutnya. "aku ga mau nurutin keinginannya.Lalu kataku,'kakak udah ga sayang lagi sama boneka ini,kalau kakak masih sayang, kenapa kakak buang?'. Tapi Kakak itu tetap menyuruhku mengembalikannya. Aku tinggalkan saja dia. Aku bawa pulang deh. Begitu ceritanya", joan mengakhiri ceritanya.
"joan,kamu tau ga perbuatan kamu itu ga baik?",cetus mama sambil memandangnya dengan tajam. "aku suka Loli.. Oh ya, aku namain dia Loli, dia lucu, qan?",jawab Joan dengan kepolosannya. "mama kasian Loli dibuang sama kakak itu".
"tapi belum tentu kakak itu membuangnya kan sayang?", sahut papa. "gak pa!", joan menggeleng-gelengkan kepalanya. Dia tetap bersikeras.
"ya sudah pa,ma", sahut Ronin, menengahi perdebatan mereka. Mama dan papa akhirnya mengalah. Joan kalau sudah punya keinginan memang harus dituruti dan keras kepala.
Ronin tidak bisa tidur malam itu. Ada perasaan aneh yang melingkupinya. Ia berusaha memejamkan mata, namun yang terbayang adalah boneka itu. Alangkah terkejutnya Ronin, ketika ia membuka matanya Loli sudah ada di meja belajarnya, dalam posisi duduk yang sangat nyaman, dengan ekspresi wajah tersenyum seolah-olah menyapanya. Ronin mencoba menenangkan diri, berusaha berfikir rasional. Dia pejamkan mata kembali, namun tidak bisa. Perlahan-lahan kembali ia membuka matanya, dan mendapati boneka itu sudah tidak ada di tempatnya semula!
Mungkin semalam aku bermimpi buruk, pikir Ronin, ketika ia terbangun keesokan harinya. Sarapan pagi kali ini terasa berbeda. Ronin merasa tidak nyaman. Loli, boneka itu sudah duduk santai di pangkuan Joan, seperti sudah menjadi bagian dalam keluarganya. Ronin melirik Darla. Sepertinya Darla juga merasakan hal yang sama. Wajahnya pucat, seperti orang yang tidak tidur semalaman. Tapi orangtuanya tidak begitu memperhatikan. Papa sedang membaca koran, mama sibuk mengoles roti, dan joan memangku boneka itu, memeluknya seperti kakak yang memeluk adiknya.
"La, lo kenapa?", tanya Ronin, dalam perjalanan menuju kampus.
"boneka itu, kak. Dia ada di kamar gue semalam!", bisik Darla. "koq sama, dia juga ada di kamar kakak semalam!", cetus Ronin. Ia terkejut sekali. "tapi bagaimana mungkin?Ini gak masuk akal!". Wajah Darla memucat, "gue ga bisa tidur semalaman kak, setelah boneka itu menghilang, gue baru bisa tidur".
"kakak juga", timpal Ronin.
"kayaknya ada yang aneh dengan Loli. Kita harus menyelidikinya, kak".
Loli kembali membuat ulah. Kali ini, mama yang dibuat terkejut oleh ulah boneka itu. Tiba-tiba saja Loli sudah duduk dengan manis di meja makan mereka. Mama semula tidak melihatnya ada di sana. Namun mama berusaha menepis pikiran yang tidak masuk akal. Ia acuhkan saja, lalu kembali melanjutkan aktifitasnya di dapur. Namun setelah ia kembali ke ruang makan, loli sudah tidak ada!. Mungkin joan yang mengambilnya,pikirnya. Tidak cukup dengan pemikiran itu, mama menjadi penasaran, ia memeriksa ke kamar Joan. Anak itu sedang tertidur pulas. Dan ketika mama melewati ruang tamu, boneka itu ada di sana. Duduk dengan nyaman di sofa mereka. Sekilas mama melihat boneka itu terseoyum mengejeknya.
"gue heran, kak. Orang -orang bilang keluarga itu tiba-tiba pindah tanpa alasan yang jelas", cetus Darla. Lalu menghempaskan tubuhnya ke sofa. "mungkin karena ulah loli", timpal Ronin. Mama menghampiri mereka. Wajahnya pucat pasi.
"kalian harus percaya sama mama", bisiknya dengan suara bergetar. "dengar. Loli,boneka itu senang berpindah-pindah". Darla dan Ronin saling beradu pandang. "kami sudah tahu,ma",timpal Ronin. "semalan dia ada di kamar ronin, tapi kemudian menghilang". Darlapun menceritakan hal yang sama.
"kenapa kalian ga cerita sama mama dan papa?".
"sudahlah ma, kami gak ingin buat mama papa cemas. Sekarang dimana boneka itu?", tanya darla.
"dia di kamu kamu, Ron!. Kamar kamu sudah mama kunci, ayo kita makan dulu", ajak mama. Alangkah terkejutnya mereka ketika mendapati Loli, boneka yang senang berpindah-pindah itu kini duduk dengan gaya khasnya di meja makan!.
"mama yakin sudah mengunci kamarku?", bisik Ronin dengan gemetar. "mama yakin sekali. Ini kuncinya". Mama menunjukkan kunci kamar Ronin. Merekapun saling pandang. ronin menjadi tidak sabar. Lalu ia membawa boneka itu keluar dan membuangnya ke tempat sampah. "sekarang lo gak bisa pindah-pindah lagi sesuka hati lo", gumam ronin, tersenyum puas.
Tanpa sepengetahuan Ronin, seorang anak perempuan kecil, berpakaian lusuh dan kumal mengawasi gerak-geriknya.
"kakak!", seru anak itu, mengagetkan Ronin. "kenapa dibuang bonekanya?", ronin terlihat bingung. Tanpa menunggu jawabannya, anak itu memungut boneka itu dari tempat sampah.
"kakak udah gak sayang lagi qan sama dia. Buat aku saja!", serunya lalu mendekap boneka itu, melindunginya. "tapi... Belum sempat Ronin menyelesaikan ucapannya, anak itu berlari cepat sekali. Ronin tidak mengejarnya. Ia mengangkat bahunya. "mungkin boneka itu hanya ingin disayang. Tapi, siapa juga yang mau menyimpan boneka yang senang berpindah-pindah seperti itu?Mungkin dia berada di tangan yang tepat",gumamnya.
Joan sudah melupakan Loli. Papa telah membelikannnya mainan yang lebih bagus. Sesekali pernah ia menanyakan keberadaan Loli, namun ia tidak peduli boneka itu sudah dibuang kakaknya.
"aku udah bosan dengan boneka", cetusnya.
The end.
Cerita Pendek 2
Cinta Nggak Bisa Dipaksa
Cinta yang selama ini aku jalani dengannya berjalan seperti apa adanya dan semestinya, karena memang aku mencintainya, tetapi tak tahu dengannya. Hingga suatu hari, ia selalu sibuk dengan kerjaannya sepulang sekolah. Bayangkan saja, pagi sampai siang sekolah pulang sekolah sampai malam bantu orang tuanya dan setelah itu ia tertidur. Sedikit sekali waktu yang tersisa untukku bahkan bisa dihitung dengan waktu, aku merenungi itu tak cukup hanya 1 hari saja,
Tetapi berminggu-minggu sekali pun ia tak memperhatikan itu. Sampai saatnya datang, seorang cowok yang bisa dikatakan tampan, sopan dan mengerti segalanya tentang aku hadir dalam hidupku. Semula aku tak tahu akan semua itu, tapi ternyata dibalik kemelut ‘sahabat’ yang ia pergunakan, ternyata ia menaruh rasa kepadaku.
“aku masih mencintai Imam” kata Anisa saat Paung mengungkapkan perasaannya di malam minggu itu.
“aku tak memaksa kamu nis, yang jelas aku udah bilang semua tentang Imam yang aku tahu, aku juga nggak memaksa kamu buat nrima aku, aku bakal nunggu kamu sampai kapanpun, aku juga bisa bantu kamu buat ngelupain Imam” ucap Paung dengan kesungguhannya yang semakin membuatku bingung. Please….. Bantu aku, jalan mana yang harus aku tempuh..??
“baiklah ung, aku bakal berusaha buat itu”
“kamu bersungguh-sungguh nisa..?”
“iya, bantu aku agar bisa melupakan Imam”
“aku akan berusaha nis, makasih sayang”
Saat itu pula aku memutuskan hubungan itu dengan Imam yang sesungguhnya masih sangat aku cintai. Semula Imam menolak, dan akhirnya ia menerima semua itu meski tak rela. Aku menjalani hubungan resmi pacaran dengan Paung, tak ada seminggu mungkin selama itu pula aku masih tak pernah bisa melupakan Imam dihatiku, susah rasanya. Malam itu, aku bulatkan tekad untuk memutuskan hubungan dengan Paung, karena sesungguhnya aku tak mencintai Paung melainkan hanya menganggapnya sebagai sahabat.
“ung, maafin aku sebelumnya”
“maaf buat apa nis..?”
“aku belum bisa ngelupain Imam, aku masih sangat mencintai Imam, aku harap kamu ngerti, aku pengen kita sahabatan aja seperti dulu, karena memang aku selalu menganggapmu sebagai sahabat”
“ya udah, klo memang itu keputusan yang menurutmu baik, aku nggak maksa kamu buat kembali ke Imam. Aku Cuma berdo’a semoga kamu baik-baik aja sama dia”
“makasih ung, kamu dah ngertiin aku”
Rasa menyesal, benci pada diri sendiri, merasa bersalah sama semuanya tercampur menjadi satu dalam diri ini. Kenapa aku tak pernah memikirkan akibatnya dalam melakukan suatu tindakan, kenapa harus jadinya seperti ini, yang akhirnya aku tak pernah bisa melupakan Imam dihati ini. Imam… aku ingin kamu kembali disisiku, karena sesungguhnya aku masih mencintaimu. Saat itu pula ketika aku sedang merenung, Imam meneleponku.
“hallo,, nis, kamu tak ingin berubah fikiran buat aku, aku sayang banget sama kamu, aku dah berkali-kali buat ngelupain kamu tapi gak pernah bisa,, pliss… terima aku lagi dihatimu nis, aku nggak bisa hidup tanpamu…”
“aku.. Nggak tahu mam”
“jawab jujur nis, kamu masih sayang kan sama aku?”
“aku nggak tahu mam”
“jawab jujur nis, pliss…”
“iya, aku masih sayang sama kamu, aku nggak bisa ngelupain kamu mam”
“tapi kenapa kamu bohongin perasaan kamu sendiri, kenapa kamu paksa hati kamu buat pacaran sama cowok laen?”
“dari mana kamu tahu?”
“semua tentang kamu aku tahu nis, aku juga tahu kamu pacaran sama Paung”
“maafin aku Mam, aku nggak tahu harus gimana lagi, yang jelas saat itu kamu nggak pernah ada disaat aku butuh, kamu selalu sibuk dengan urusanmu sendiri, hingga aku di nomor 2 atau malah dinomor 5 kan, aku nggak mau mam, aku pengen kamu perhatian sama aku, seperti dulu”
“iya, aku juga ngerti, aku minta maaf nis, aku sayang banget sama kamu, kamu jangan pergi lagi dari aku nis”
“aku juga sayang banget sama kamu mam” ucapku lirih saat menahan tangis.
Mulai saat itu pula aku kembali kepada imam, karena sesungguhnya hatiku hanya untuknya, dan cinta nggak bisa dipaksakan. Karena dari itu, cinta disebut dengan cinta buta, yang tak pernah melihat seseorang dari tampang, tapi dari hati, sebaik apapun seseorang itu, jika memang hati kita tak pernah menginginkan dia, maka cinta itu tak akan pernah tumbuh.
Selasa, 15 April 2014
Petualangan Lima Sekawan Membangun BSI
Berawal dari usaha kursus kecil-kecilan, kini Bina Sarana Informatika berkembang pesat menjadi akademi pendidikan ternama dan punya 36 kampus. Bagaimana kewirausahaan di baliknya?
“Mulailah berwirausaha dari skala kecil, dan rintislah usaha sedari usia Anda masih muda.” Nasihat ini tampaknya dihayati dan dijalankan betul oleh lima sekawan — Naba Aji Notoseputro, Herman P., Efriadi, Surachman dan Sigit – dalam merintis bisnis pendidikan hingga mencapai sukses seperti sekarang. Bina Sarana Informatika (BSI) menjadi bukti ketekunan Naba dkk. membangun bisnis sendiri dari skala kecil..
Semua itu berawal pada 1988, ketika lima sekawan tersebut tengah duduk di semester akhir Institut Pertanian Bogor. Di saat mereka belum menyelesaikan kuliah, mereka coba-coba mendirikan lembaga kursus komputer kecil-kecilan di Depok, Jawa Barat. Modal untuk menggulirkan usaha hanya lima unit komputer PC IBM XT 8088 dan kenekatan. Mereka setiap hari bolak-balik Depok-Bogor. “Pagi kuliah dulu di Bogor, lalu siang dan sore meluncur ke Depok untuk ngajar,” tutur Naba, yang bersama teman-temannya memanfaatkan jasa transportasi kereta api Bogor-Depok, yang setiap jam melintas.
Tidak tanggung-tanggung, di saat perintisan usaha, kelima personel ini terjun melakukan semua hal bersama. Mulai dari menjadi tenaga administrasi, tenaga pengajar, hingga berpromosi dengan membuat dan memasang spanduk di tiang listrik di seputar Kota Depok, semua mereka lakukan sendiri.
Menurut Naba, proses pengenalan lembaga kursusnya tidak mudah. Saat itu Depok belum seramai sekarang. Depok masih senyap, karena belum banyak mal dan kampus seperti sekarang. Sehingga, sulit mencari siswa. “Dalam sebulan kami hanya mendapatkan lima orang,” kata Naba, Direktur BSI yang kini menginjak usia 39 tahun. Toh, kondisi tersebut tak memudarkan semangat mereka. Bisnis terus dilanjutkan. Dan terbukti, pelan-pelan, dari bulan ke bulan ada penambahan jumlah murid.
Bahkan, saking optimistisnya, sekitar 6 bulan kemudian Naba dan keempat kawannya menyiapkan tambahan tempat kursus baru di pinggiran Jakarta, persisnya di Pondok Labu, Jakarta Selatan. “Kami memberanikan diri mengontrak ruko di dekat pasar,” ujar Naba. Setelah itu, berturut-turut mereka membuka cabang baru di Ciputat dan Bekasi di tahun berikutnya dengan sistem kontrak. Namun apa daya, gayung rupanya tak bersambut. Respons pasar tidak seperti yang mereka harapkan: jumlah peserta sedikit. Tak mengherankan, mereka terpaksa menutup cabang di Ciputat dan Bekasi itu. Mereka memang masih mengembangkan bisnis dengan pola trial and error sehingga harus terbentur di sana-sini. Tanpa pengalaman.
Belajar dari berbagai kegagalan, lima sekawan ini kemudian mencoba mengubah strategi. Setelah sebelumnya mengandalkan pendekatan ritel/individual, mereka lalu mencoba pendekatan institusional. “Kami bekerja sama dengan SMA-SMA,” tutur Naba. Hal ini digabung dengan strategi harga murah. Biaya pendidikan dipatok serendah mungkin agar bisa dijangkau kebanyakan siswa didik. Ketika itu biayanya hanya Rp 10 ribu/bulan tiap siswa. Dari uang siswa sebanyak itu pun, separuhnya dikembalikan ke sekolah yang muridnya dikursuskan di LPK BSI. Hampir semua SMA negeri di Depok diajak bergabung oleh Naba dkk. Ternyata, pola ini efektif karena jumlah siswa BSI terus bertambah secara signifikan dari tahun ke tahun.
Perkembangan positif inilah yang menambah optimisme lima sekawan ini untuk makin serius menggulirkan bisnis pendidikan. Maka, pada 1990, setelah melihat pesatnya pertumbuhan, mereka berani membeli lahan seluas 1.000 m2 dan bangunan lima lantai di Pondok Labu, yang mereka jadikan sebagai pusat pendidikan (kampus). Namun, mereka tak merogoh kocek sendiri untuk membeli properti sebesar itu karena memang tak punya cukup uang cash. Mereka meminjam ke Bank Danamon, sebesar Rp 400 juta. Lahan dan bangunan itulah yang dijadikan agunan ke bank. “Kami nekat saja. Kalau tidak begitu, bagaimana bisa maju?” kata Naba seraya menjelaskan, hari jadi BSI tanggal 3 Maret 1988.
Naba berkeyakinan, dengan kenekatan dan utang yang besar, mereka pasti terpacu bekerja keras agar bisa mengembalikan utang itu. Terbukti lima tahun kemudian, utang bisa dilunasi. Tentu, ini pun tak lepas dari strategi dan keputusan menaikkan status lembaga, dari pusat kursus biasa menjadi Akademi Manajemen Informatika dan Komputer (AMIK) — ditandai dengan pembukaan program pendidikan komputer setahun pada 1994. Praktis, setelah mampu melunasi utang Rp 400 juta itu, pihak bank makin percaya. Bank kemudian berani menawarkan pinjaman baru dengan nilai yang lebih tinggi, mencapai Rp 1 miliar.
Hanya saja, Naba dkk. tak terburu-buru menerima tawaran kredit baru. Betapapun, pihaknya tetap mesti hati-hati dalam berekspansi. Wajar, tawaran kredit baru senilai Rp 1 miliar itu tak diambil semuanya. Mereka hanya mengambil kredit untuk menyewa gedung dan membeli sarana belajar. Tepatnya untuk pembukaan cabang BSI di pusat kota, di Kramat Raya. Jadi, tidak membeli, hanya menyewa. Ternyata, keputusan itu tepat karena ketika terjadi kerusuhan 27 Juli 1996 gedung kuliah di Kramat Raya ikut terbakar hingga menghanguskan 50 unit komputer, bahan belajar dan data mahasiswa. Berarti kerugiannya hanya ratusan juta. Bayangkan kalau gedung itu milik sendiri, tentu kerugiannnya akan berlipat-lipat.
Sewaktu krisis moneer, usaha lima sekawan ini benar-benar dalam terpaan badai. “Ketika itu, tiap bulan kami sempat harus bayar utang sampai Rp 60 juta. Kelimpungan juga,” tutur Naba yang asli Purworejo. Untung, berkat upaya untuk terus bertahan yang tak pernah pupus, BSI berhasil survive. Waktu itu manajemen BSI merasa harus bertanggung jawab melangsungkan pendidikan bagi 500 mahasiswa BSI. Tak mengherankan, pascakrisis, kampus BSI di Kramat Raya difungsikan kembali, bahkan ditambah jumlahnya. “Kini kami sudah punya empat gedung di sekitar Kramat,” katanya bangga. Keempat gedung itu masing-masing berlokasi di Kramat Raya 16 dan 168, serta Salemba 22 dan 45. Gedung-gedung baru itu mereka dapatkan dari hasil lelang properti Badan Penyehatan Perbankan Nasional yang mereka beli total sekitar Rp 5 miliar — lagi-lagi, untuk membeli properti lelang itu, Naba dkk. juga meminjam dana ke bank. Kini, dari 20 ribu mahasiswa BSI, separuhnya kuliah di BSI di Jalan Salemba-Keramat Raya itu.
Selepas krismon, boleh dibilang perkembangan BSI semakin moncer. Berturut-turut dibuka program baru: sekretaris, bahasa (Cina dan Inggris), serta komunikasi (PR, periklanan dan penyiaran). Tahun 2004, sebagai upaya diversifikasi, mereka membuka Akademi Pariwisata, bekerja sama dengan Inna Garuda. Kampus BSI pun berkembang, selain di Depok dan Jakarta, juga di Tangerang, Bogor, Cikarang, Karawang, Cikampek, Bandung, Tasikmalaya, Purworejo, Solo dan Magelang. Total ada 36 kampus, baik pendidikan informal berupa kursus sampai pendidikan formal akademi dan sekolah tinggi (STMIK Nusa Mandiri).
Tentu saja, ini menjadi catatan menarik karena ekspansi lembaga pendidikan tidaklah semudah ekspansi bisnis ritel. Maklum, ini melibatkan pula berbagai regulasi dan perizinan yang sering berbelit-belit. Untuk ekspansi, di beberapa kota BSI mencoba melebarkan sayap membangun unit lembaga kursus baru yang kemudian ditingkatkan statusnya menjadi akademi setelah mendapat izin Direktorat Perguruan Tinggi. Namun di beberapa kota, seperti Serpong, Bogor dan Bandung, BSI mengambil alih izin akademi yang telah berdiri. Seperti di Serpong, BSI mengambil alih PTMI yang tidak bisa lagi berkembang, tahun 2004. Di Bogor, giliran AMIK Widya Sarana diakuisisi pada tahun yang sama. Di Bandung, pada 2005 BSI mengambil alih AMIK Mulya Mitra serta Akademi Sekretaris dan Manajemen Bandung. Adapun di Tasikmalaya, BSI mengakuisisi AMIK Sukapura.
Cara akuisisi BSI bisa disebut unik. Maklum, yang diambil alih hanya izin pengelolaan dan mahasiswanya. Sementara aset gedung dan karyawan, tidak. BSI merekrut tenaga pengajar baru dan mencari lokasi kampus baru setelah mengambil alih pengelolaan. “Mereka tidak concern mengelola dan kalah persaingan,” kata Naba tentang akademi yang diakuisisi. Ia kerap mendapat informasi dari pemerintah dan kolega di asosiasi perkumpulan perguruan tinggi ketika ada akademi yang kesulitan dan mau dijual. Hebatnya, begitu diambil alih BSI, jumlah mahasiswa langsung tumbuh secara signifikan. Menurut Naba, itu berkat brand BSI yang sudah bagus dan sarana pendukung pendidikan yang lengkap meski biaya kuliah terjangkau (sekitar Rp 900 ribu/semester). Apalagi, kini BSI menerapkan biaya kuliah dan fasilitas yang seragam di setiap kampus.
Jahja B. Sunarjo, pengamat bisnis, melihat BSI menembak segmen yang tepat, karena kini persaingan bagi lulusan sekolah lanjutan untuk masuk ke perguruan tinggi terkenal, sangat ketat. Sehingga, akademi seperti BSI memberikan alternatif. Apalagi, model edukasinya terapan dan bisa cepat diserap lapangan kerja. “Ini memang yang dituntut kebanyakan masyarakat,” kata Jahja. Ia menjelaskan, BSI mampu mengambil ceruk segmen mahasiswa yang ingin cepat kerja dan biaya kuliah tak mahal. Selain itu, BSI adalah kampus pertama yang berhasil menembus paradigma: akademi pantang berpromosi. “Bukan cuma promosi, tetapi juga membangun komunikasi dengan masyarakat. Di luar negeri, ini lumrah saja dilakukan dan menjadi tren,” Jahja menerangkan
Fauzia Rahma, mahasiswa semester V Manajemen Administrasi ASM BSI, mengaku senang kuliah di BSI. Menurutnya, selain mudah memilih program studi, lokasi kampusnya juga bisa diatur. “Kualitasnya bagus, biaya kuliah juga nggak mahal,” tutur Fauzia kalem. Materi kuliah pun mudah dipelajari karena mahasiswa diberi catatan kecil yang bisa diunduh (download) dari Internet melalui warnet. “Di sini kami juga sering (mengikuti) acara seminar dan workshop yang bisa memberikan gambaran dunia kerja itu seperti apa,” katanya. Yang menurutnya menarik, acara job expo yang digelar dua kali setahun melalui BSI Career. “Cari kerja jadi tidak pusing, saya juga bisa magang.”
Lima sekawan ini terlihat sangat solid dalam mengelola BSI. Mereka saling mengisi. Pola bagi tugasnya berjalan dengan baik. Hingga kini, Naba mengendalikan operasional BSI, dari akademis sampai perkembangan cabang. Sementara Herman, sebagai Ketua Yayasan. Efriadi mengurusi personalia, kualitas sumber daya manusia dan tenaga pengajar. Surachman menangani penerimaan mahasiswa baru. Adapun Sigit bertanggung jawab atas pemasaran dan promosi. Kelimanya bekerja terus tanpa ada saling iri. Usia kelima sekawan ini masing-masing baru berkepala 3, tetapi mereka tampak dewasa dan arif sehingga bisa menjadi tim yang solid untuk membangun bisnis bersama.
Menuju Cyber Campus
Mahasiswa biasanya selalu direpotkan dengan urusan administrasi tiap awal dan akhir semester. Di awal semester, selain antre membayar SPP, mahasiswa juga kudu mengambil formulir, berkonsultasi dan mengajukan Kartu Rencana Studi (KRS). Di akhir semester, meski libur kuliah, mahasiswa belum tenang kalau Kartu Hasil Studi (KHS) belum diambil. Lagi-lagi, ini juga harus antre. Administrasi kampus sejatinya sama pula repotnya. Kerepotan inilah yang sudah dipecahkan BSI dengan mengimplementasi teknologi informasi. Melalui Biro TI, sejak 2003 BSI mentransformasi sistem administrasinya hingga sepenuhnya menjadi paperless. “Cuma ijazah yang harus distempel dan ditandatangani satu per satu,” ujar Mochammad Wahyudi, dosen mata kuliah Security System yang juga kepala Biro TI BSI.
Untuk membayar SPP, mahasiswa cukup datang ke ATM (sejak 1997 BSI bekerja sama dengan BCA; kini, dengan 8 bank) atau menggunakan fasilitas Internet banking dan mobile banking. Untuk mengisi KRS dan KHS, mahasiwa tinggal melihat di Internet: cukup dengan memasukkan nomor induk mahasiswa dan password — bisa juga melalui SMS dan interactive voice responsel. Ujian pun tidak lagi memakai kertas fotokopian karena soal ujian online dari Kantor Pusat BSI di Menara Salemba yang dipancarkan melalui proyektor di tiap ruang kelas.
Dengan infrastruktur berbasis TI ini, tenaga administrasi dan akademis yang dibutuhkan di tiap kampus rata-rata hanya tiga orang. Bayangkan, dengan jumlah mahasiswa 20-an ribu orang dan 36 kampus, betapa terbantunya backoffice bagian administrasi. Bukan itu saja, bahan kuliah dan ujian juga melalui infrastruktur TI. Silabus, materi kuliah tiap pertemuan, semua bisa diakses melalui Internet. Mahasiswa tinggal datang ke warnet untuk mengunduh dari Internet. Mahasiswa bisa pula bertanya dan berkonsultasi melalui Internet. Tanpa perlu bertatap muka pun, mahasiswa bisa mendapat bimbingan tugas akhir dari dosen melalui Internet. “Siswa dan pengajar dimudahkan teknologi di sini,” ujar Wahyudi. Malah, jumlah kehadiran dosen hingga penghasilan mereka per bulan pun bisa diakses melalui Internet dan telepon seluler. Wahyudi mengklaim, kampus lain belum ada yang menerapkan sistem ini. Yang menarik, sistem ini dikembangkan BSI sendiri.
Sumber :
URL : http://www.swa.co.id/swamajalah/artikellain/details.php?cid=1&id=5798
Kamis, 12 April 2007 Oleh : Sudarmadi dan Abraham Susanto
Langganan:
Postingan (Atom)

