Rabu, 06 November 2019

Calon Walikota Depok Masa Depan


erna suparno - calon walikota depok mas depan

calon walikota depok dari pks ini sudah deklarasikan tim sukses ... pdip dukung calon walikota depok gerindra di pilkada depok 2020 alasannya ... muhamad idris sebut 7 nama berminat jadi calon walikota depok dampingi dirinya ... pks umumkan 5 nama kader calon wali kota depok 2020 2025 ... www.kompas.com/tag/calon-wali-kota-depok .. Calon Walikota Depok Masa Depan ... ini-lima-bakal calon wali kota depok dari pks ... https://id.wikipedia.org/wiki/Pemilihan umum Wali Kota Depok ... http://kota-depok.kpu.go.id/tag/ calon walikota depok  ... gerindra putuskan calon wali kota depok 2020 ... mengenal sosok dua calon walikota depok di mata gubernur jawa barat ... 5 bakal calon wali-kota depok dari pks apa visi misi mereka ... tujuh partai politik satukan suara di pilkada depok 2020 ... tempati posisi teratas calon wali kota depok hasil survei ... hasil survei teratas duduki calon wali kota depok tahun 2020 ... bakal calon walikota depok dorong warga depok gemar berlari ... gerindra buka-penjaringan-bakal-calon-walikota-depok-2020 ... Prediksi nama bakal calon Wali Kota dan Wakil Wali Kota Depok ... jabar.tribunnews.com › politik › jawa barat > depok - TRIBUNJABAR.CO.ID - Beberapa waktu lalu, publik sempat dibikin heboh dengan kemunculan berita tentang seorang yang diprediksi akan menjadi calon walikota depok masa depan bernama Erna Suparno

Jumat, 06 Januari 2017

Bob Sadino, menempatkan perusahaan seperti sebuah keluarga.

 
 
Bob Sadino lahir di Lampung, tanggal 9 Maret 1933, wafat pada tanggal 19 Januari 2015. Beliau akrab dipanggil dengan sebutan 'om Bob'. Ia adalah seorang pengusaha asal Indonesia yang berbisnis di bidang pangan dan peternakan. Ia adalah pemilik dari jaringan usaha Kemfood dan Kemchick. Dalam banyak kesempatan, ia sering terlihat menggunakan kemeja lengan pendek dan celana pendek yang menjadi ciri khasnya. Bob Sadino lahir dari sebuah keluarga yang hidup berkecukupan. Ia adalah anak bungsu dari lima bersaudara. Sewaktu orang tuanya meninggal, Bob yang ketika itu berumur 19 tahun mewarisi seluruh harta kekayaan keluarganya karena saudara kandungnya yang lain sudah dianggap hidup mapan. Bob kemudian menghabiskan sebagian hartanya untuk berkeliling dunia. Dalam perjalanannya itu, ia singgah di Belanda dan menetap selama kurang lebih 9 tahun. Di sana, ia bekerja di Djakarta Lylod di kota Amsterdam dan juga di Hamburg, Jerman. Ketika tinggal di Belanda itu, Bob bertemu dengan pasangan hidupnya, Soelami Soejoed.


Pada tahun 1967, Bob dan keluarga kembali ke Indonesia. Ia membawa serta 2 Mercedes miliknya, buatan tahun 1960-an. Salah satunya ia jual untuk membeli sebidang tanah di Kemang, Jakarta Selatan sementara yang lain tetap ia simpan. Setelah beberapa lama tinggal dan hidup di Indonesia, Bob memutuskan untuk keluar dari pekerjaannya karena ia memiliki tekad untuk bekerja secara mandiri.


Pekerjaan pertama yang dilakoninya setelah keluar dari perusahaan adalah menyewakan mobil Mercedes yang ia miliki, ia sendiri yang menjadi sopirnya. Namun sayang, suatu ketika ia mendapatkan kecelakaan yang mengakibatkan mobilnya rusak parah. Karena tak punya uang untuk memperbaikinya, Bob beralih pekerjaan menjadi tukang batu. Gajinya ketika itu hanya Rp.100. Ia pun sempat mengalami depresi akibat tekanan hidup yang dialaminya.


Suatu hari, temannya menyarankan Bob memelihara ayam untuk melawan depresi yang dialaminya. Bob tertarik. Ketika beternak ayam itulah muncul inspirasi berwirausaha. Bob memperhatikan kehidupan ayam-ayam ternaknya. Ia mendapat ilham, ayam saja bisa berjuang untuk hidup, tentu manusia pun juga bisa.

Sebagai peternak ayam, Bob dan istrinya, setiap hari menjual beberapa kilogram telor. Dalam tempo satu setengah tahun, ia dan istrinya memiliki banyak langganan, terutama orang asing, karena mereka fasih berbahasa Inggris. Bob dan istrinya tinggal di kawasan Kemang, Jakarta, di mana terdapat banyak menetap orang asing.

Tidak jarang pasangan tersebut dimaki pelanggan, babu orang asing sekalipun. Namun mereka mengaca pada diri sendiri, memperbaiki pelayanan. Perubahan drastis pun terjadi pada diri Bob, dari pribadi feodal menjadi pelayan. Setelah itu, lama kelamaan Bob yang berambut perak, menjadi pemilik tunggal super market (pasar swalayan) Kem Chicks. Ia selalu tampil sederhana dengan kemeja lengan pendek dan celana pendek.


Bisnis pasar swalayan Bob berkembang pesat, merambah ke agribisnis, khususnya holtikutura, mengelola kebun-kebun sayur mayur untuk konsumsi orang asing di Indonesia. Karena itu ia juga menjalin kerjasama dengan para petani di beberapa daerah. Bob percaya bahwa setiap langkah sukses selalu diawali kegagalan demi kegagalan. Perjalanan wirausaha tidak semulus yang dikira. Ia dan istrinya sering jungkir balik. Baginya uang bukan yang nomor satu. Yang penting kemauan, komitmen, berani mencari dan menangkap peluang.


Di saat melakukan sesuatu pikiran seseorang berkembang, rencana tidak harus selalu baku dan kaku, yang ada pada diri seseorang adalah pengembangan dari apa yang telah ia lakukan. Kelemahan banyak orang, terlalu banyak mikir untuk membuat rencana sehingga ia tidak segera melangkah. “Yang paling penting tindakan,” kata Bob.


Keberhasilan Bob tidak terlepas dari ketidaktahuannya sehingga ia langsung terjun ke lapangan. Setelah jatuh bangun, Bob trampil dan menguasai bidangnya. Proses keberhasilan Bob berbeda dengan kelaziman, mestinya dimulai dari ilmu, kemudian praktik, lalu menjadi trampil dan profesional. Menurut Bob, banyak orang yang memulai dari ilmu, berpikir dan bertindak serba canggih, arogan, karena merasa memiliki ilmu yang melebihi orang lain. Sedangkan Bob
selalu luwes terhadap pelanggan, mau mendengarkan saran dan keluhan pelanggan. Dengan sikap seperti itu Bob meraih simpati pelanggan dan mampu menciptakan pasar. Menurut Bob, kepuasan pelanggan akan menciptakan kepuasan diri sendiri. Karena itu ia selalu berusaha melayani pelanggan sebaik-baiknya.


Bob menempatkan perusahaannya seperti sebuah keluarga. Semua anggota keluarga Kem Chicks harus saling menghargai, tidak ada yang utama, semuanya punya fungsi dan kekuatan.


Seorang Anak Guru
Kembali ke tanah air tahun 1967, setelah bertahun-tahun di Eropa dengan pekerjaan terakhir sebagai karyawan Djakarta Lloyd di Amsterdam dan Hamburg, Bob, anak bungsu dari lima bersaudara, hanya punya satu tekad, bekerja mandiri. Ayahnya, Sadino, pria Solo yang jadi guru kepala di SMP dan SMA Tanjungkarang, meninggal dunia ketika Bob berusia 19.


Modal yang ia bawa dari Eropa, dua sedan Mercedes buatan tahun 1960-an. Satu ia jual untuk membeli sebidang tanah di Kemang, Jakarta Selatan. Ketika itu, kawasan Kemang sepi, masih terhampar sawah dan kebun. Sedangkan mobil satunya lagi ditaksikan, Bob sendiri sopirnya.


Suatu kali, mobil itu disewakan. Ternyata, bukan uang yang kembali, tetapi berita kecelakaan yang menghancurkan mobilnya. ”Hati saya ikut hancur,” kata Bob. Kehilangan sumber penghasilan, Bob lantas bekerja jadi kuli bangunan. Padahal, kalau ia mau, istrinya, Soelami Soejoed, yang berpengalaman sebagai sekretaris di luar negeri, bisa menyelamatkan keadaan. Tetapi, Bob bersikeras, ”Sayalah kepala keluarga. Saya yang harus mencari nafkah.”


Untuk menenangkan pikiran, Bob menerima pemberian 50 ekor ayam ras dari kenalannya, Sri Mulyono Herlambang. Dari sini Bob menanjak: Ia berhasil menjadi pemilik tunggal Kem Chicks dan pengusaha perladangan sayur sistem hidroponik. Lalu ada Kem Food, pabrik pengolahan daging di Pulogadung, dan sebuah ”warung” shaslik di Blok M, Kebayoran Baru, Jakarta. Catatan awal 1985 menunjukkan, rata-rata per bulan perusahaan Bob menjual 40 sampai 50 ton daging segar, 60 sampai 70 ton daging olahan, dan 100 ton sayuran segar.


”Saya hidup dari fantasi,” kata Bob menggambarkan keberhasilan usahanya. Ayah dua anak ini lalu memberi contoh satu hasil fantasinya, bisa menjual kangkung Rp 1.000 per kilogram. ”Di mana pun tidak ada orang jual kangkung dengan harga segitu,” kata Bob.


Om Bob, panggilan akrab bagi anak buahnya, tidak mau bergerak di luar bisnis makanan. Baginya, bidang yang ditekuninya sekarang tidak ada habis-habisnya. Karena itu ia tak ingin berkhayal yang macam-macam. Haji yang berpenampilan nyentrik ini, penggemar berat musik klasik dan jazz. Saat-saat yang paling indah baginya, ketika shalat bersama istri dan dua anaknya.


Meninggal Dunia
Setelah sempat dirawat selama dua bulan, pengusaha nyentrik Bob Sadino akhirnya menghembuskan napas terakhirnya di Rumah Sakit Pondok Indah Jakarta pada hari Senin, tanggal 19 januari 2015 setelah berjuang dengan penyakitnya yaitu infeksi saluran pernafasan kronis. Bob Sadino dikatakan sudah tak sadar dalam 2-3 minggu. Penyakitnya terkait dengan usianya yang sudah lanjut serta kondisinya yang makin menurun setelah istrinya meninggal dunia pada Juli 2014. 


Profil dan Biodata Bob Sadino


Biografi Bob Sadino - Pengusaha Sukses Dari Indonesia

Nama : Bob Sadino
Lahir : Tanjungkarang, Lampung, 9 Maret 1933
Wafat : Jakarta, 19 Januari 2015
Agama : Islam


Pendidikan :
-SD, Yogyakarta (1947)
-SMP, Jakarta (1950)
-SMA, Jakarta (1953)


Karir :
-Karyawan Unilever (1954-1955)
-Karyawan Djakarta Lloyd, Amsterdam dan Hamburg (1950-1967)
-Pemilik Tunggal Kem Chicks (supermarket) (1969-sekarang)
-Dirut PT Boga Catur Rata
-PT Kem Foods (pabrik sosis dan ham)
-PT Kem Farms (kebun sayur)


Alamat Rumah:
Jalan Al Ibadah II/12, Kemang, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan Telp: 793981


Alamat Kantor :
Kem Chicks Jalan Bangka Raya 86, Jakarta Selatan Telp: 793618


Referensi :


- http://pengusahamuda.wordpress.com/biografi/
- http://id.wikipedia.org/wiki/Bob_Sadino
- https://bisnis.liputan6.com/read/2163254/pengusaha-nyentrik-bob-sadino-meninggal-dunia

Senin, 16 November 2015

Soichiro Honda, Montir tangguh yang tahan pada kegagalan


Kisah Sukses Soichiro Honda, Montir tangguh yang menjadi bos industri mobil Jepang Pernakah Anda tahu, sang pendiri "kerajaan" Honda - Soichiro Honda – sebelum sukses diraihnya ia banyak mengalami kegagalan? Ia juga tidak menyandang gelar insinyur, lebih-lebih Profesor seperti halnya B.J. Habibie, mantan Presiden RI. Ia bukan siswa yang memiliki otak cemerlang. Di kelas, duduknya tidak pernah di depan, selalu menjauh dari pandangan guru. "Nilaiku jelek di sekolah. Tapi saya tidak bersedih, karena dunia saya disekitar mesin, motor dan sepeda," tutur tokoh ini, yang meninggal pada usia 84 tahun, setelah dirawat di RS Juntendo, Tokyo, akibat mengindap lever. Soichiro Honda lahir tanggal 17 November 1906 di Iwatagun (kini Tenrryu City) yang terpencil di Shizuoka prefecture. Daerah Chubu di antara Tokyo, Kyoto, dan Nara di Pulau Honshu yang awalnya penuh tanaman teh yang rapi, yang disela-selanya ditanami arbei yang lezat. Namun kini daerah kelahiran Honda sudah ditelan Hamamatsu yaitu kota terbesar di provinsi itu. Ayahnya bernama Gihei Honda seorang tukang besi yang beralih menjadi pengusaha bengkel sepeda, sedangkan ibunya bernama Mika, Soichiro anak sulung dari sembilan bersaudara, namun hanya empat yang berhasil mencapai umur dewasa. Yang lain meninggal semasa kanak-kanak akibat kekurangan obat dan juga akibat lingkungan yang kumuh. Walaupun Gihei Honda miskin, namun ia suka pembaharuan. Ketika muncul pipa sigaret modal Barat, ia tidak ragu-ragu mengganti pipa cigaret tradisionalnya yang bengkok, tidak peduli para tetangganya menganggapnya aneh. Rupanya sifat itu dan juga keterampilannya menangani mesin menurun pada anak sulungnya. Sebelum masuk sekolah pun Soichiro sudah senang, membantu ayahnya di bengkel besi. Ia juga sangat terpesona melihat dan mendengar dengum mesin penggiling padi yang terletak beberapa kilometer dari desanya. Di sekolah prestasinya rendah. Honda mengaku ulangan-ulangannya buruk. Ia tidak suka membaca, sedangkan mengarang dirasakannya sangat sulit. Tidak jarang ia bolos. “Sampai sekarang pun saya lebih efisien belajar dari TV daripada dari membaca. Kalau saya membaca, tidak ada yang menempel di otak,” katanya. Ketika sudah kelas lima dan enam, bakat Soichiro tampak menonjol di bidang sains. Walaupun saat itu baru belasan tahun, namun dalam kelas-kelas sains di Jepang sudah dimunculkan benda-benda seperti baterai, timbangan, tabung reaksi dan mesin. Dengan mudah Soichiro menangkap keterangan guru dan dengan mudah ia menjawab pertanyaan guru. Beberapa waktu sebelum itu, untuk pertama kalinya Soichiro melihat mobil. “Ketika itu saya lupa segalanya. Saya kejar mobil itu dan berhasil bergayut sebentar di belakangnya. Ketika mobil itu berhenti, pelumas menetes ke tanah. Saya cium tanah yang dibasahinya. Barangkali kelakuan saya persis seperti anjing. Lalu pelumas itu saya usapkan ke tangan dan lengan. Mungkin pada saat itulah di dalam hati saya timbul keinginan untuk kelak membuat mobil sendiri. Sejak saat itu kadang-kadang ada mobil datang ke kampung kami. Setiap kali mendengar deru mobil, saya berlari ke jalan, tidak peduli pada saat itu saya sedang menggendong adik.” Soichiro hanya mengalami duduk di bangku sekolah selama sepuluh tahun. Sesudah lulus SD, anak nakal itu dikirim ke sekolah menengah pertama di Futumata yang tidak jauh dari kediamannya. Lulus dari sekolah menengah itu ia pulang ke rumah ayahnya. Gihei Honda sudah beralih dari pandai besi menjadi pengusaha bengkel sepeda. Gihei Honda memiliki majalah The World of Wheels yang dibaca Soichiro dengan penuh minat Kecintaannya kepada mesin, mungkin 'warisan' dari ayahnya yang membuka bengkel reparasi pertanian, di dusun Kamyo, distrik Shizuko, Jepang Tengah, tempat kelahiran Soichiro Honda. Di bengkel, ayahnya memberi cathut (kakak tua) untuk mencabut paku. Ia juga sering bermain di tempat penggilingan padi melihat mesin diesel yang menjadi motor penggeraknya. Di usia 8 tahun, ia mengayuh sepeda sejauh 10 mil, hanya ingin menyaksikan pesawat terbang. Ternyata, minatnya pada mesin, tidak sia-sia. Ketika usianya 12 tahun, Honda berhasil menciptakan sebuah sepeda pancal dengan model rem kaki. Tapi, benaknya tidak bermimpi menjadi usahawan otomotif. Ia sadar berasal dari keluarga miskin. Apalagi fisiknya lemah, tidak tampan, sehingga membuatnya rendah diri. Di usia 15 tahun, Honda hijrah ke Jepang, bekerja Hart Shokai Company. Bosnya, Saka Kibara, sangat senang melihat cara kerjanya. Honda teliti dan cekatan dalam soal mesin. Setiap suara yang mencurigakan, setiap oli yang bocor, tidak luput dari perhatiannya. Enam tahun bekerja disitu, menambah wawasannya tentang permesinan. Akhirnya, pada usia 21 tahun, bosnya mengusulkan membuka suatu kantor cabang di Hamamatsu. Tawaran ini tidak ditampiknya. Di Hamamatsu prestasi kerjanya tetap membaik. Ia selalu menerima reparasi yang ditolak oleh bengkel lain. Kerjanya pun cepat memperbaiki mobil pelanggan sehingga berjalan kembali. Karena itu, jam kerjanya larut malam, dan terkadang sampai subuh. Otak jeniusnya tetap kreatif. Pada zaman itu, jari-jari mobil terbuat dari kayu, hingga tidak baik meredam goncangan. Ia punya gagasan untuk menggantikan ruji-ruji itu dengan logam. Hasilnya luarbiasa. Ruji-ruji logamnya laku keras, dan diekspor ke seluruh dunia. Di usia 30, Honda menandatangani patennya yang pertama. Setelah menciptakan ruji, Honda ingin melepaskan diri dari bosnya, membuat usaha bengkel sendiri. Ia mulai berpikir, spesialis apa yang dipilih? Otaknya tertuju kepada pembuatan Ring Pinston, yang dihasilkan oleh bengkelnya sendiri pada tahun 1938. Sayang, karyanya itu ditolak oleh Toyota, karena dianggap tidak memenuhi standar. Ring buatannya tidak lentur, dan tidak laku dijual. Ia ingat reaksi teman-temannya terhadap kegagalan itu. Mereka menyesalkan dirinya keluar dari bengkel. Karena kegagalan itu, Honda jatuh sakit cukup serius. Dua bulan kemudian, kesehatannya pulih kembali. Ia kembali memimpin bengkelnya. Tapi, soal Ring Pinston itu, belum juga ada solusinya. Demi mencari jawaban, ia kuliah lagi untuk menambah pengetahuannya tentang mesin. Siang hari, setelah pulang kuliah - pagi hari, ia langsung ke bengkel, mempraktekan pengetahuan yang baru diperoleh. Setelah dua tahun menjadi mahasiswa, ia akhirnya dikeluarkan karena jarang mengikuti kuliah. "Saya merasa sekarat, karena ketika lapar tidak diberi makan, melainkan dijejali penjelasan bertele-tele tentang hukum makanan dan pengaruhnya," ujar Honda, yang gandrung balap mobil. Kepada Rektornya, ia jelaskan maksudnya kuliah bukan mencari ijasah. Melainkan pengetahuan. Penjelasan ini justru dianggap penghinaan. Berkat kerja kerasnya, desain Ring Pinston-nya diterima. Pihak Toyota memberikan kontrak, sehingga Honda berniat mendirikan pabrik. Eh malangnya, niatan itu kandas. Jepang, karena siap perang, tidak memberikan dana. Ia pun tidak kehabisan akal mengumpulkan modal dari sekelompok orang untuk mendirikan pabrik. Lagi-lagi musibah datang. Setelah perang meletus, pabriknya terbakar dua kali. Namun, Honda tidak patah semangat. Ia bergegas mengumpulkan karyawannya. Mereka diperintahkan mengambil sisa kaleng bensol yang dibuang oleh kapal Amerika Serikat, digunakan sebagai bahan mendirikan pabrik. Tanpa diduga, gempa bumi meletus menghancurkan pabriknya, sehingga diputuskan menjual pabrik Ring Pinstonnya ke Toyota. Setelah itu, Honda mencoba beberapa usaha lain. Sayang semuanya gagal. Akhirnya, tahun 1947, setelah perang Jepang kekurangan bensin. Di sini kondisi ekonomi Jepang porak-poranda. Sampai-sampai Honda tidak dapat menjual mobilnya untuk membeli makanan bagi keluarganya. Dalam keadaan terdesak, ia memasang motor kecil pada sepeda. Siapa sangka, "sepeda motor" – cikal bakal lahirnya mobil Honda - itu diminati oleh para tetangga. Mereka berbondong-bondong memesan, sehingga Honda kehabisan stok. Disinilah, Honda kembali mendirikan pabrik motor. Sejak itu, kesuksesan tak pernah lepas dari tangannya. Motor Honda berikut mobinya, menjadi "raja" jalanan dunia, termasuk Indonesia. Bagi Honda, janganlah melihat keberhasilan dalam menggeluti industri otomotif. Tapi lihatlah kegagalan-kegagalan yang dialaminya. "Orang melihat kesuksesan saya hanya satu persen. Tapi, mereka tidak melihat 99% kegagalan saya", tuturnya. Ia memberikan petuah ketika Anda mengalami kegagalan, yaitu mulailah bermimpi, mimpikanlah mimpi baru. Kisah Honda ini, adalah contoh bahwa Suskes itu bisa diraih seseorang dengan modal seadanya, tidak pintar di sekolah, ataupun berasal dari keluarga miskin. 5 Resep keberhasilan Honda : * Selalu berambisi dan berjiwa muda. * Hargailah teori yang sehat, temukan gagasan baru, khususkan waktu memperbaiki produksi. * Senangi pekerjaan Anda dan usahakan buat kondisi kerja senyaman mungkin. * Carilah irama kerja yang lancar dan harmonis. * Selalu ingat pentingnya penelitian dan kerja sama. Trial and error Untuk meraih kesuksesan, Anda perlu melakukan trial and error. Hal ini merupakan salah satu tolok ukur untuk menggapai kesuksesan. Tinggal sejauh mana kita mau dan berani mencoba kembali kegagalan itu. Sebelum mencoba lagi, pikirkan masak-masak langkah yang akan ditempuh. Kalau pun terjadi kesalahan kembali, jangan ragu-ragu melakukan perbaikan dan terus mencoba sampai Anda berhasil mengatasinya. Kunci utama trial and error adalah kerja keras dan tetap semangat. "Orang melihat kesuksesan saya hanya satu persen. Tapi, mereka tidak melihat 99% kegagalan saya", Soichiro Honda Nah dengan demikian, Anda telah berdamai dengan kegagalan. Sehingga kegagalan bukan lagi momok yang menakutkan. Melainkan sesuatu yang harus dihadapi dan dilawan agar kegagalan itu tidak menggerogoti hidup Anda. Semoga Sukses…..!

Sumber: http://inspirasisuksesmulia.blogspot.co.id/2013/02/kisah-sukses-soichiro-honda-montir.html

Kamis, 17 April 2014

Cerita Pendek 3

Loli Bonekanya Joan
ditulis oleh : Marieta Rianthi
 
Boneka yang cantik sekali.Bergaun panjang kuno,berwarna merah muda,Dengan renda-renda dibagian leher dan tangannya.Rambutnya pendek berwarna keemasan dengan pita berwarna merah muda pula.Wajahnya manis dicat dengan terampil sekali.Dan menambah kesan abad pertengahan, boneka itu juga mengenakan sepatu model pada zaman tersebut juga berwarna merah muda.Tubuhnya terdiri dari kapas dan kain perca.Meskipun warnanya memudar dan telah usang dimakan zaman,boneka itu tetap terlihat anggun.Begitu klasik dan terkesan mahal,jenis boneka yang biasa dimiliki oleh anak-anak orang kaya dan dipajang di etalase toko-toko mewah pada zamannya. Kini dia muncul begitu saja. Duduk dengan manis di sofa ruang tamu rumah mereka.
 
Darla mengernyitkan dahinya ketika melihat boneka itu. Ia baru saja pulang kuliah. Gadis berkacamata itu memandangnya aneh,menelitinya sedemikian rupa. Tatapan boneka itu terlihat lebih tajam dan licik. Namun Darla tidak menyadarinya,diacuhkannya boneka itu, lalu bergegas menuju kamarnya. 

"Darla!. Kenapa lo menaruh boneka di dapur,sih!?",teriak Ronin, kakak tertua Darla, sambil membuka pintu kamar Darla yang tidak terkunci. Darla hampir saja terlelap,jika saja kakaknya itu tidak datang mengganggunya. "bukan gue, kak!Lagian gak penting banget sih. Udah sana jangan ganggu gue",cetusnya. "yeah, mungkin si Joan,kali",gumamnya lalu meninggalkan Darla sendirian. Darla dan Ronin hanya terpaut dua tahun saja,jadi tidak heran mereka sudah seperti teman sebaya. Mereka mempunyai adik bungsu bernama Joan, gadis cilik berusia 7 tahun. Dan Joan sangat menyukai boneka. Joan sedang tidur siang sekarang ditemani mamanya. Papa belum pulang. Ronin kembali dikejutkan oleh boneka itu. Kini boneka itu duduk di sofa ruang tamu lagi. Baru beberapa menit saja dia meninggalkannya di dapur, dalam sekejap boneka itu telah kembali ke tempatnya semula!. Ronin memandanginya dengan tatapan aneh. "Sebenarnya dari mana sih boneka ini?",bisik Ronin, sambil mengingat-ingat. "kayaknya Joan gak punya boneka ini deh, tapi koq dia tiba-tiba muncul, sih?", Ronin meneliti boneka itu, digerak-gerakan tangannya, lalu ditaruhnya kembali pada posisi semula. Raut wajah boneka itu memang tersenyum, namun sekilas, Ronin melihat senyumnya melebar. Ronin mengernyitkan dahinya, lalu berlalu menuju kamarnya.

"Pa, boneka itu papa yang beli, ya?", cetus Ronin ketika mereka sekeluarga sedang makan malam bersama. "boneka apa ya?", tanya papa. "itu lho pa yang di ruang tamu", sahut Darla. "iya pa, Ronin sepertinya baru lihat". papa jadi bingung. Darla dan Ronin saling melemparkan pandangan. "boneka itu ya!", seru Joan. "aku nemuin dia di halaman sebuah rumah, di seberang sekolahku. Aku pikir yang punya boneka ini sudah membuangnya. Mereka udah gak sayang lagi sama dia. Lalu aku Ambil deh,eh tiba-tiba seorang kakak perempuan keluar dari dalam rumah dan mencegahku mengambilnya", Joan berhenti sebentar,meminum segelas air putih. Untuk sementara tidak ada komentar, mereka menunggu kelanjutan ceritanya. "kakak itu bilang, 'jangan dibawa bonekanya,dik, jangan! Tolong kembalikan lagi ya,kakak akan menyimpannya' ", lanjutnya. "aku ga mau nurutin keinginannya.Lalu kataku,'kakak udah ga sayang lagi sama boneka ini,kalau kakak masih sayang, kenapa kakak buang?'. Tapi Kakak itu tetap menyuruhku mengembalikannya. Aku tinggalkan saja dia. Aku bawa pulang deh. Begitu ceritanya", joan mengakhiri ceritanya.
"joan,kamu tau ga perbuatan kamu itu ga baik?",cetus mama sambil memandangnya dengan tajam. "aku suka Loli.. Oh ya, aku namain dia Loli, dia lucu, qan?",jawab Joan dengan kepolosannya. "mama kasian Loli dibuang sama kakak itu".
"tapi belum tentu kakak itu membuangnya kan sayang?", sahut papa. "gak pa!", joan menggeleng-gelengkan kepalanya. Dia tetap bersikeras.
"ya sudah pa,ma", sahut Ronin, menengahi perdebatan mereka. Mama dan papa akhirnya mengalah. Joan kalau sudah punya keinginan memang harus dituruti dan keras kepala.

Ronin tidak bisa tidur malam itu. Ada perasaan aneh yang melingkupinya. Ia berusaha memejamkan mata, namun yang terbayang adalah boneka itu. Alangkah terkejutnya Ronin, ketika ia membuka matanya Loli sudah ada di meja belajarnya, dalam posisi duduk yang sangat nyaman, dengan ekspresi wajah tersenyum seolah-olah menyapanya. Ronin mencoba menenangkan diri, berusaha berfikir rasional. Dia pejamkan mata kembali, namun tidak bisa. Perlahan-lahan kembali ia membuka matanya, dan mendapati boneka itu sudah tidak ada di tempatnya semula!

Mungkin semalam aku bermimpi buruk, pikir Ronin, ketika ia terbangun keesokan harinya. Sarapan pagi kali ini terasa berbeda. Ronin merasa tidak nyaman. Loli, boneka itu sudah duduk santai di pangkuan Joan, seperti sudah menjadi bagian dalam keluarganya. Ronin melirik Darla. Sepertinya Darla juga merasakan hal yang sama. Wajahnya pucat, seperti orang yang tidak tidur semalaman. Tapi orangtuanya tidak begitu memperhatikan. Papa sedang membaca koran, mama sibuk mengoles roti, dan joan memangku boneka itu, memeluknya seperti kakak yang memeluk adiknya.

"La, lo kenapa?", tanya Ronin, dalam perjalanan menuju kampus.
"boneka itu, kak. Dia ada di kamar gue semalam!", bisik Darla. "koq sama, dia juga ada di kamar kakak semalam!", cetus Ronin. Ia terkejut sekali. "tapi bagaimana mungkin?Ini gak masuk akal!". Wajah Darla memucat, "gue ga bisa tidur semalaman kak, setelah boneka itu menghilang, gue baru bisa tidur".
"kakak juga", timpal Ronin.
"kayaknya ada yang aneh dengan Loli. Kita harus menyelidikinya, kak".

Loli kembali membuat ulah. Kali ini, mama yang dibuat terkejut oleh ulah boneka itu. Tiba-tiba saja Loli sudah duduk dengan manis di meja makan mereka. Mama semula tidak melihatnya ada di sana. Namun mama berusaha menepis pikiran yang tidak masuk akal. Ia acuhkan saja, lalu kembali melanjutkan aktifitasnya di dapur. Namun setelah ia kembali ke ruang makan, loli sudah tidak ada!. Mungkin joan yang mengambilnya,pikirnya. Tidak cukup dengan pemikiran itu, mama menjadi penasaran, ia memeriksa ke kamar Joan. Anak itu sedang tertidur pulas. Dan ketika mama melewati ruang tamu, boneka itu ada di sana. Duduk dengan nyaman di sofa mereka. Sekilas mama melihat boneka itu terseoyum mengejeknya.

"gue heran, kak. Orang -orang bilang keluarga itu tiba-tiba pindah tanpa alasan yang jelas", cetus Darla. Lalu menghempaskan tubuhnya ke sofa. "mungkin karena ulah loli", timpal Ronin. Mama menghampiri mereka. Wajahnya pucat pasi.
"kalian harus percaya sama mama", bisiknya dengan suara bergetar. "dengar. Loli,boneka itu senang berpindah-pindah". Darla dan Ronin saling beradu pandang. "kami sudah tahu,ma",timpal Ronin. "semalan dia ada di kamar ronin, tapi kemudian menghilang". Darlapun menceritakan hal yang sama.
"kenapa kalian ga cerita sama mama dan papa?".
"sudahlah ma, kami gak ingin buat mama papa cemas. Sekarang dimana boneka itu?", tanya darla.
"dia di kamu kamu, Ron!. Kamar kamu sudah mama kunci, ayo kita makan dulu", ajak mama. Alangkah terkejutnya mereka ketika mendapati Loli, boneka yang senang berpindah-pindah itu kini duduk dengan gaya khasnya di meja makan!.
"mama yakin sudah mengunci kamarku?", bisik Ronin dengan gemetar. "mama yakin sekali. Ini kuncinya". Mama menunjukkan kunci kamar Ronin. Merekapun saling pandang. ronin menjadi tidak sabar. Lalu ia membawa boneka itu keluar dan membuangnya ke tempat sampah. "sekarang lo gak bisa pindah-pindah lagi sesuka hati lo", gumam ronin, tersenyum puas.

Tanpa sepengetahuan Ronin, seorang anak perempuan kecil, berpakaian lusuh dan kumal mengawasi gerak-geriknya.
"kakak!", seru anak itu, mengagetkan Ronin. "kenapa dibuang bonekanya?", ronin terlihat bingung. Tanpa menunggu jawabannya, anak itu memungut boneka itu dari tempat sampah.
"kakak udah gak sayang lagi qan sama dia. Buat aku saja!", serunya lalu mendekap boneka itu, melindunginya. "tapi... Belum sempat Ronin menyelesaikan ucapannya, anak itu berlari cepat sekali. Ronin tidak mengejarnya. Ia mengangkat bahunya. "mungkin boneka itu hanya ingin disayang. Tapi, siapa juga yang mau menyimpan boneka yang senang berpindah-pindah seperti itu?Mungkin dia berada di tangan yang tepat",gumamnya.

Joan sudah melupakan Loli. Papa telah membelikannnya mainan yang lebih bagus. Sesekali pernah ia menanyakan keberadaan Loli, namun ia tidak peduli boneka itu sudah dibuang kakaknya.
"aku udah bosan dengan boneka", cetusnya.

The end.